Archive for Motor

Nasibku, Anak Motor

Sebagai seorang yang setiap hari beraktifitas dengan menggunakan kendaraan roda dua, rasanya wajar jika saya menyebut diri saya sebagai amot alias anak motor.

Istilah amot ini saya peroleh dari salah seorang penyiar radio beberapa tahun lalu, tapi saya sendiri lupa nama penyiar dan radio apa yang saya dengarkan.

Sebagai seorang amot yang sangat setia, hampir setiap aktifitas luar rumah, saya selalu menggunakan motor. Momen-momen yang paling menyenangkan adalah ketika harus bermacet-macet ria menyusuri jalan
Jakarta untuk berangkat ke kantor.
Jakarta emang ga ade matinye kalo soal macet coy..!? he..he..

Saya sangat mensyukuri teknologi yang namanya sepeda motor ini. Di tengah kemacetan Jakarta yang luar biasa, motor masih bisa selip
sana selip sini dalam usahanya untuk  meloloskan diri dari kungkungan macet. Bodi-nya yang kecil dan ramping memungkinkan hal ini terjadi.

Saya rasa motor adalah pilihan yang sangat tepat untuk berkendara khususnya di
Jakarta. Dengan ongkos angkot yang kalau dipikir makin hari makin gila, motor menjadi alternatif yang sangat menolong buat saya yang berkantong cekak.

Ketika Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menggembar-gemborkan akan membuat regulasi berupa perda yang intinya membatasi ruang gerak amot
Jakarta, rasanya hati ini panas juga. Apalagi dia menggunakan alasan kalau motor adalah biang kemacetan di
Jakarta. Wuih.., tuduhan yang tidak masuk akal dan sangat berlebihan.

Berapa sih ukuran sepeda motor sehingga membuat jalanan jadi macet. Bandingkan dengan bus-bus besar yang menjadi angkutan umum di
Jakarta. Mereka inilah sebenarnya biang kemacetan utama
Jakarta.

Selain bodinya yang gede banget, seringkali para supir merasa bahwa mereka adalah Raja Jalanan, sehingga melupakan bahwa ukuran bus mereka yang super besar untuk ukuran lalu lintas dalam
kota.

Supir angkutan umum yang ugal-ugalan sudah menjadi cermin wajah pengemudi
Jakarta. Kebiasaan mereka menaikkan dan menurunkan penumpang sembarangan, bukan pada tempat semestinya, merupakan hal yang sangat umum juga terjadi di
Jakarta.

Belum lagi mobil pribadi, kalau Anda sering melewati Jalan Jenderal Sudirman seperti saya, Anda akan melihat bahwa kemacetan juga disebabkan oleh mobil-mobil pribadi yang keluar masuk perkantoran dan mal.

Lalu kenapa Sutiyoso masih menganggap bahwa motorlah sumber dan biang kemacetan di
Jakarta?

Jumlah motor yang banyak, dan kekurangtertiban pengendara motor memang harus diakui masih sering terjadi. Tapi jika dikatakan menjadi penyebab utama kemacetan, wah saya rasa tetap saja masih sangat berlebihan.

Saya sendiri merasakan sekali bahwa setelah tahun 2005 ketika BBM mulai dinaikkan oleh pemerintahan SBY, jumlah sepeda motor di Jakarta seperti menggila, dimana-mana ada motor. Ini semua terjadi juga berkaitan dengan kinerja pemerintah yang belum bisa menyediakan angkutan umum yang baik, mamadai dan murah bagi rakyatnya.

Sutiyoso sudah membuat busway, itu bagus. Tapi apa ya sudah mampu menjawab kebutuhan masyarakat
Jakarta sepenuhnya? Saya yang tinggal di daerah Cilandak, untuk sampai ke halte busway terdekat harus naik angkot sampai dua kali, dengan biaya Rp3000 – Rp5000, padahal ongkos busway saja cuma Rp3500.
Kan pemborosan namanya. Padahal jika naik motor mungkin cuma butuh setengah liter premium untuk jarak tempuh yang sama, which is cuma Rp2250
kan.

Kondisi ekonomi bangsa ini memang baru memungkinkan rakyatnya untuk memiliki motor sebagai sarana transportasi sehari-hari. Kalau mobil rasanya masih untuk kalangan terbatas. Bayangkan harga mobil baru yang termurah sudah sampai angka ratusan juta rupiah, sedangkan motor hanya belasan juta, jauh sekali selisihnya.

Gimana mau berpikir untuk beli mobil, lha wong buat makan aja susah. Kalau kemudian mampu beli motor, itu
kan memang investasi jangka menengah saja, daripada duit habis untuk bayar ongkos bus setiap hari, toh lebih baik dikumpulkan setiap bulan untuk bayar tagihan motor. Lebih irit dan hemat bukan, sekaligus bisa jalan-jalan kemana aja.. :-) !?

Harusnya Pemda DKI lebih mengurusi bagaimana kemacetan bisa dikurangi, namun tanpa menginjak-injak harga asasi orang kelas bawah seperti para pengendara motor, dengan membatasi ruang gerak jalan yang boleh atau tidak boleh dilewati oleh motor. Memang jalan raya itu hanya diperuntukkan buat orang kaya? Contoh sederhananya saja mobil dibuatkan jalur khusus, yaitu jalur cepat, sedangkan motor..? Jangan harap deh..!

Aturan yang ada saat ini sebenarnya sudah sangat merugikan pengendara motor, jadi tidak perlu ditambah dengan yang macam-macam itu.

Motor diharuskan menyalakan lampu di siang hari. Padahal bagi para pengguna sepeda motor hal ini sangat tidak efektif, bahkan cenderung terjadinya pemborosan, soal bohlam lampu dan aki motor.

Motor harus berjalan di lajur kiri. Lajur kiri berarti sama dengan yang diambil oleh bus-bus angkutan umum dalam
kota. Perilaku supir bus yang seenaknya sendiri dalam menaikkan dan menurunkan penumpang bisa sangat berbahaya bagi pengendara motor yang ada di belakangnya. Belum lagi di tambah asap tebal yang dikeluarkan dari knalpot bus-bus tersebut. Bisa berabe juga kalau tiap hari menghisap asap beracun itu.

Saya yakin jika dilakukan uji emisi secara ‘baik, benar serta jujur’ lebih dari 80% bus-bus angkutan umum itu tidak akan lulus uji emisi.

Sudah sampai sini saja motor sebenarnya sudah sangat dianaktirikan oelh regulasi yang dibuat pemerintah, jadi rasanya bodoh jika harus ditambah lagi dengan yang macam-macam itu.

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.