Sabtu (24/03/07) malam itu saya sedang berada dalam perjalanan pulang dari rumah seorang teman di Bekasi, kurang lebih jam 22.15 WIB. Karena rumah saya di Cilandak, waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan dengan motor kurang lebih satu jam. Karena malam hari jadi lebih cepat, jika dilakukanpada siang hari akan memakan waktu lebih dari satu setengah jam.
Ketika jam menunjukkan pukul 23.05 WIB, saya sudah hampir sampai rumah, kurang lebih 400 meter lagi sampai depan pintu rumah. Tiba-tiba handphone berbunyi. Seorang teman meminta tolong saya untuk menjemput di daerah Lenteng Agung karena ban motornya gembos.
Saya putuskan membalikkan motor yang tinggal beberapa ratus meter lagi sampai rumah itu, untuk menjemput teman.
Karena malam itu adalah malam minggu kami putuskan untuk sekedar ngobrol-ngobrol dulu di suatu tempat. Kami telepon beberapa teman agar ikut gabung bersama kami. Jadilah malam itu kami ngobrol-ngobrol sambil makan nasi goreng pinggir jalan.
Ketika sampai di rumahnya teman saya mengatakan sambil tersenyum, “Kurang enak apa coba gue punya teman, dah dijemput karena ban bacor, dianter sampai depan rumah lagi..!?
###
Minggu (25/03/07) jam 14.00 WIB, ada sms masuk. Dari seorang teman yang kebetulan tinggal di
Cirebon. “Dong, gw mo ke Jakarta, skrg gw di kereta. Tar bisa ga kt ktmu di Jatinegara.”
Jam 16.00 WIB saya berangkat untuk menemui teman tersebut sekaligus menjemputnya. Tadi di sms dia bilang mau langsung ke tempat sepupunya di Depok. Sesampainya di Jatinegara, ternyata ia sudah bersama seorang temannya yang lain yang kebetulan juga akan menuju Depok. Dengan berat hati teman saya itu mengatakan bahwa dia tidak bisa diantar oleh saya karena akan bareng dengan temannya tersebut.
Akhirnya saya memilih untuk bertemu lagi di Depok di rumah sepupunya tersebut. Saya disana hingga jam 21.50 WIB.
Besoknya teman saya sms dan mengatakan banyak terima kasih karena sudah dijemput dan ditemani sampai Depok.
###
Kedua cerita diatas adalah fakta tentang dua hal yang saya lakukan bagi orang lain. Kedua kejadian ini menjadi istimewa, sebab apa yang telah saya lakukan tersebut ternyata dianggap sebagai sebuah kebaikan.
Saya menyadari ini adalah hal yang baik, karena tindakan tersebut begitu bermakna bagi mereka. Teman saya mengatakan rasa terima kasih yang menurut saya tidak biasa dan bahkan cenderung memuji. Padahal memuji adalah suatu hal yang tidak biasa dilakukan dalam komunitas kami.
Keadaan ini membuat saya berpikir tantang tindakan yang telah dilakukan. Pantaskah tindakan sederhana itu dianggap sebagai sebuah kebaikan? Kenapa saya mau melakukan tindakan-tindakan tersebut? Apakah saya melakukan ini karena benar-benar ingin menolong mereka ataukah ada maksud lain? Sebaik itukah saya? Kayanya ga juga deh? He..he..
Pertanyaan-pertanyaan itu begitu menggelayuti pikiran ini, maka saya kemudian merenung tentang hal ini dan begini kira-kira logika saya berjalan.
###
Pada kasus pertama, saya memang mau disuruh menjemput teman saya dan mengantarnya pulang. Tapi itu semata-mata karena saya juga ingin bertemu dengan dia untuk sekedar ngobrol. Ngobrol bareng ini juga adalah sebuah kebutuhan bagi saya.
Pada kasus kedua, saya melakukan itu karena saya sendiri merasa sudah lama tidak bertemu dengan teman tersebut. Sehingga ajang penjemputan itu mungkin bisa dijadikan sebagai sarana untuk bertemu dan saling sharing informasi tentang teman-teman kami yang lain karena kabar mereka sebagian besar saya kurang tau.
Saya melihat kedua pertolongan yang saya lakukan untuk kedua teman itu sebenarnya tidak 100% murni karena keinginan untuk menolong. Ada faktor lain yang membelakangi saya melakukan hal tersebut.
‘Kebutuhan pribadi’ untuk ngobrol dan sharing juga mendorong saya untuk melakukan tindakan tersebut, jika ternyata bagi teman-teman dianggap sebagai sebuah bantuan yang penting. Baguslah buat saya.
Hanya saja saya merasa, jangan-jangan saya memang lebih mementingkan keinginan pribadi, sedangkan menolong itu hanyalah sebuah kedok belaka?
Saya mencoba menanyakan pada diri sendiri, jika tidak memiliki kepentingan tertentu dalam hal ini, apakah saya bersedia membantu mereka?
Pikiran ini semakin terus membawa saya kepada ‘dataran’ yang lebih jauh. Apakah kita dalam melakukan sesuatu selalu dibarengi dengan ketulusan dan keikhlasan, tanpa ada kepentingan sedikitpun?
Kalau kemudian kita merasa bahwa apa yang telah kita lakukan, banyak berarti buat orang lain mungkin memang benar. Tapi apakah kita bisa yakin bahwa kita tidak mengharapkan imbalan apapun dari apa yang sudah kita lakukan?
Saya meragukan hal tersebut. Bagi saya kita setiap kali melakukan sesuatu selalu dibarengi dengan kebutuhan akan diri sendiri, kepentingan kita, egoisme kita. Bahkan pada level yang paling ekstrim sekalipun, ibadah kepada Tuhan, kita masih mengedepankan kepentingan pribadi.
Kita berharap kepada Tuhan agar dengan ibadah kita, Tuhan mau dan sudi memberikan kita ‘akses’ langsung ke surga. Kita meminta kepadaNya pahala yang besar, agar bisa menjadi bekal kelak di akhirat.
Kadang saya berpikir, kita seperti sedang menjilat Tuhan dengan ibadah kita..!? Gila juga ya kita..!?
Dari sini kemudian saya meyakini bahwa manusia pada prinsipnya memang egois. Kita melakukan sesuatu jika sesuatu itu bisa memberikan manfaat bagi diri kita.
Jika sampai kepada ibadah saja kita masih berharap pahala dari Tuhan, apalagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti apa yang saya lakukan terhadap kedua teman tersebut.
Guru agama saya ketika SMU, Pak Mardjuki, pernah menerangkan hal ini, bahwa manusia yang berharap pahala dan surga dengan ibadahnya adalah sebaik-baiknya manusia. Ini adalah sebuah kemahfuman akan hal yang baik dan benar.
Dalam Islam, Tuhan memang menganjurkan manusia untuk beribadah dengan baik dan mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Manusia yang mengharapkan pahala sebagai balasan dari perbuatannya itu adalah manusia beriman yang sesungguhnya.
Lain ceritanya jika kita mengaharapkan balasan dari manusia, itu tidak abadi katanya, bahkan hanya membuat manusia menjadi sombong dan besar kepala.
Mungkin ada benarnya juga, tapi kok saya merasa bahwa manusia itu memang tidak pernah tulus dalam melakukan segala tindakannya. Manusia itu ternyata sangat egois, hanya mementingkan kepentingan pribadi. Sampai kepada ibadah kepada Tuhan saja masih berharap dapat sesuatu.
Meskipun begitu saya tidak melihat ini sebagai hal yang negatif, walaupun juga tidak positif. Tapi lebih bisa mengerti dan memahfumi akan kebutuhan manusia untuk melampiaskan egonya. Ini adalah manusiawi, lumrah dan sangat biasa. Manusia mungkin memang sudah diciptakan dengan sifat yaang egois. Asalkan egoisme itu tidak berbenturan dengan individu lain, dan menimbulkan konflik, egoisme menjadi sah.
###
Saya kembali berpikir tentang kejadian awal, apakah saya pantas mendapatkan terima kasih dan pujian dari kedua teman tersebut atas apa yang telah saya lakukan bagi mereka? Ah.., suatu saat saya akan tanyakan kepada mereka, tapi tidak saat ini. Saya masih ingin merasakan nikmatnya memperoleh rasa pujian dari mereka. Kan ga tiap hari mereka muji saya!? He..he..